Jagat Deva Bhatara

KALA namaku. Lahir dari perkawinan Dewa Baruna dan Dewi Kandita di atas atas singgasana yang dibawa sapi Andini. Ketika aku mulai tumbuh besar, dewa-dewi menitahkan padaku turun ke bumi. Di pundakku diembankan amanah besar. Kusadari itu, Kisanak. Maka manakala para bidadari asyik membasuh tubuh mereka di Curug Agung, kusampaikan pada mereka bahwa titisan para dewa sedang berjalan di muka bumi.

Namun apa mau dikata. Tak satu pun bidadari tersebut mau percaya. Padahal aku sama sekali tak meminta mereka nikahi, seperti Jaka Tarub. Tidak. Aku hanya ingin dipercayai. Sesederhana itu. Kalian tahu kan, betapa kepercayaan itu teramat penting. Jadi untuk memudahkan kerja besarku di bumi ini, orang² harus tahu siapa Kala, anggota kehormatan Kaum Atlantis.

Begini. Kukira kalian perlu juga diberitahu bagaimana Çaka menguasai tundra pikiran anak² manusia. Betapa tidak. Seluruh ras di dunia ini adalah anak turunan kami, yang semula berjumlah sepuluh. Ada Jawi, Madayu, Kambuja, Scythia, Manessah, Mala, Malai, Mada, Mada-yu, Mala-yu.

Dari bangsa Madayu, lahir Mada, Medes, Madyan, Midian, Medea. Dari Scythia, muncul Sakkas, Çaka (Kaum Aryan/Ras Arya). Mala mewariskan keturunan yang menjadi suku Jakun, Iban, Kadazan, Melanau, Bajau. Mungkin kalian sulit membayangkan seberapa hebat bangsa kami. Betapa luarbiasanya mereka membangun kuil² kehidupan di atas punden berundak. Meletakkan tugu² batu di pintu masuk kota. Mendirikan mahakarya situs perçandian di jantung peradaban. Menempa pusaka sakti mandraguna berbahan meteorit yang diunduh dari langit.

Lebih menjengkelkan lagi, ketika itu semua kusampaikan satu persatu, mereka hanya menganggapku sebagai pendongeng ulung. Bahkan anak² kecil yang kutemui sepanjang perjalanan, hanya menganggapku setara majnun. Quixote sejati yang datang dari masa lalu, bersama Cervantes yang malang melintang di dunia kata².

| Pohon Rindu


MANAKALA para bidadari tersebut kembali ke khayangan, aku mendekati curug yang tadi mereka pakai mandi. Letaknya yang tersembunyi, menerbitkan kesan magis. Dinding batunya memancarkan air. Terjun sempurna ke kolam di bagian bawah. Curug ini tampak kecil saja. Berair sejuk lagi dingin. Di atas air terjun utama, berdiri anggun seorang danyang perempuan. Ia melemparkan senyum tipis ke arahku. Selendang sutranya menjuntai ditiup angin gunung. Jari jemarinya lentik. Lemah gemulai. Wajahnya cerah bercahaya. Binar matanya meneduhkan perasaanku. Ia begitu ayu nan rupawan.

Setelah beroleh izin darinya, aku memberanikan diri tuk berendam. Sebelum menceburkan tubuh ke dalam kolam, kuperhatikan lagi paras sendiri yang tecermin di permukaan air. Wajahku ini, hadiah terindah para leluhur yang telah mendahuluiku. Tanpa kehidupan mereka, musykil kiranya aku bisa memiliki wajah seperti sekarang ini. Mustahil pula aku mendapatkan kehidupan sedemikian rupa indahnya.

Aliran darahku, seluruh sel, rantai DNA & RNA, jelas merupakan perpaduan sempurna riwayat panjang perjalanan mereka mengarungi dunia fana. Warna-warni kisah mereka kubawa selalu ke segala penjuru kaki melangkah. Gen istimewa yang mereka wariskan, jelas harus kupertanggungjawabkan. Rintik hujan seketika merincih. Padahal surya masih menggantung gagah di langit sana. Bias sinarnya bersatu padu dengan buliran hujan. Membentuk pelangi kecil. Kaki² mungilnya berderak persis di sebelah batu yang kududuki.

Pelahan, kutenggelamkan diri ke kolam jernih yang tak terlalu dangkal itu. Di dalamnya tumbuh beberapa pohon. Akarnya menyentuh permukaan air. Sementara puncak dedaunannya menyentuh ke dasar. Semua pepohonan yang kulihat dijaga para wanita berusia dua puluhan. Muda lagi bergairah. Seorang di antara mereka memberitahuku bahwa pohon² yang mirip angsana itu, tumbuh dari benih rindu.

Tak puas dengan penjelasan tadi, kutanya padanya, "benih rindu itu muncul dari cinta siapa?" Lantas ia menjawab dengan suara lirih dan lembut, "berasal dari Sang Hyang Hamurwa Bhumi. Dia teramat mencintai ciptaannya. Baik makhluk kasat mata, maupun kalangan lelembut, seperti kami ini. Oh ya, kami semua bernama Vanita. Bangsa manusia melidahkannya dalam Sansekerta, jadi wanita. Berarti, ia yang disayangi."

Seluruh gadis vanita itu lalu mengajakku melihat pesona dunia bawah air, melalui lubang goa yang berada di bawah air terjun. Gelombang hati mereka tenang. Bahkan bisa kuterawang dengan mata telanjang. Beberapa pengawal berjenis hermafrodit yang berpapasan dengan kami, sigap mengapurancang. Demi menyaksikan itu, aku sontak mengatupkan kedua telapak tangan. Mohon hampura dari mereka. Semoga kedatanganku bukan merupakan kelancangan tak termaafkan.

| dunia air

SEPASANG tugu besar berdiri tegak dihadapanku ketika melewati pintu goa. Bentuk bangunannya persis seperti gapura Wringin Lawang di Trowulan. Pintu gerbang terdepan Karatuan Majapahit. Manakala menatap dua tugu nan megah berwarna keperakan itu, air di sekelilingku mendadak seperti udara. Aku tak perlu lagi menahan nafas. Beberapa ikan yang kujumpai di dalam sungai bawah tanah itu, malah menghaturkan salam Rahayu, kepadaku.

Bersama para Vanita, kami terus masuk lebih jauh ke istana yang sekujur bangunannya disusun dari molekul air berwarna-warni. Bahkan kukira, ada begitu banyak warna di sini yang belum pernah kulihat di dunia atas. Sinaran matahari yang masuk menembus ke dasar sungai, tampak semacam pilar cahaya. Ulir²nya terdiri dari tetumbuhan rambat. Tak ubahnya tumbuhan airmata pengantin.

Nun di cakrawala pandanganku, terdapat singgasana kristal bertatah zamrud khas Khatulistiwa. Ada banyak stalagtit dan stalagmit yang menancap di sisi kiri-kanannya. Beberapa danyang hermafrodit menguluk sembah menyambut kehadiran kami. Lalu Vanita memberi isyarat agar aku segera maju, menduduki singgasana. Berbekal keyakinan penuh, aku melangkah pelahan. Saat hendak duduk & membalik badan, tiba² semua yang ada di hadapanku telah berubah.

Mahadewa Hyang Surya Raditya, mengangkasa bersama dewa api, Agni; dewa hujan, Indra; dewa angin, Vayu, dan para dewi seperti Saraswati, Savitri, Aditi, dan Suryaputri. Menyaksikan sinar suci Bhatara-Bhatari dalam keserentakan ruang-waktu itu, aku teringat pada ajaran luhur Nusantara yang terwaris pada buddhaya Sunda Wiwitan, Baduy, Malim, Marapu, Kapitayan, Kaharingan, Iban, Tengger, Bali, Tolottang, Wetu Telu, dan Aluk Todolo.

Dharma yang mereka kembangkan telah menjadi agama kehidupan. Agama yang memanusiakan manusia. Agama yang mengajak makhluk kembali pulang menuju titik keberangkatannya dari Hyang Widhi Tunggal. Kepada seluruh makhluk di jagat raya, kupanjatkan doa semoga kita semua berbahagia.

| Dasa Indera


HYANG Surya Raditya melambaikan tangan ke arahku. Aku pun berdiri, beranjak meninggalkan singgasana. Lalu duduk bersimpuh menghadapi cahaya terang benderang. Tapi tidak menyilaukan pandangan mata. Aku masih belum lagi mengerti, di manakah aku berada saat ini. Aku hanya tahu kakiku tak menjejak apa pun. Sejauh mataku memandang, tak kutemui batas cakrawala. Sungguh membingungkan.

"Anakku, ajukanlah padaku sebuah pertanyaan," ujar Hyang Surya Raditya.

"Ajarkanlah patik cara mengenal diri, Bapa," jawabku sambil menguluk sembah.

Hyang Surya pun bersabda:
"Kenalilah dulu sepuluh inderamu, berikut isi pikiran, akal budi, dan identitas diri. Mereka adalah; telinga, kulit, mata, lidah, hidung, mulut, tangan, anus, alat reproduksi, dan kaki. Lima indera awal disebut pencerapan. Sisanya dikenali sebagai indera tindakan. Jadi karma."

"Lantas apa yang harus patik lakukan dengan semua itu, Bapa?"

"Sadarilah kemunculan semua perangkat dirimu itu, yang hadir melalui lima unsur halus yang terdiri dari bunyi, sentuhan, bentuk, aroma, dan rasa. Unsur halus bunyi memunculkan eter. Kualitasnya adalah bunyi. Ciri khasnya menciptakan ruang. Dari unsur halus sentuhan muncul udara. Kualitasnya sentuhan. Ciri khasnya menggerakkan. Unsur halus bentuk, menimbulkan api. Kualitasnya bentuk. Ciri khasnya bersinar & panas. Unsur halus aroma aroma, mencuatkan tanah. Kualitasnya aroma. Ciri khasnya kasar & menubuh. Unsur halus rasa menimbulkan air. Kualitasnya manis, pahit, pedas, sepat, asam asin. Ciri khasnya basah."

"Apatah lagi setelahnya, Bapa?"

"Turunlah kau ke Jambudwipa. Olah rasa dirimu. Temuilah manusia. Belajarlah dari dirimu, untuk dirimu, dengan dirimu, bersama dirimu."

Usai bersabda demikian, Hyang Surya Raditya lenyap dari hadapanku. Nun di bawah sana--padahal sebelumnya aku tak tahu ada yang bernama bawah di sini, terhampar sebuah benua besar. Membentang melintasi timur ke barat, utara ke selatan. Pelahan² kakiku mulai menginjak tanah nan subur. Rerumputan basah sisa hujan. Titik embun masih menggantung di dedaunan. Semilir angin bertiup menerpa kulit jangatku. Kini aku telah mendarat di Negeri Atas Angin. (bersambung)

25 Januari 2019

Author

3 Responses Write a Response

Mark Otto
24 Hours
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo.
Mark Otto
24 Hours
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo.
Mark Otto
24 Hours
Quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.
Mark Otto
24 Hours
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo.

Leave Your Response