Negeri Misterius yang Diramalkan Rasûlullâh Saw


 

 

BANGSA Jawi menamai salah satu pulau keramatnya berdasar kesadaran Ti Hyang (Tiyang) Jawata. Bisa kita artikan menjadi orang² keturunan dewa. Dalam bahasa Jawa, dewa juga biasa disebut Gusti. Bagus ning ati. Jika ditilik secara akar kata, de(w)va berasal dari bahasa Sanskerta; div, yang artinya sinar. Jadi dewa dapat dimaknai sebagai sinaran Cahaya Suci Hyang Maha Manunggal (Brahman). Jika dianalogikan, persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari yang satu menyinari dengan fungsi berbeda ke seantero penjuru dunia.

 

Maka mafhum adanya bila ada sebuah penghormatan terhadap Gus Dur yang ditahbiskan dalam bentuk Sinchi. Diletakkan di Altar Utama Klenteng Boen Hian Tong, Semarang. Di situ terdapat duapuluh lima patung dewa, salah satunya bertuliskan nama Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain identik dengan sinar matahari, dewa juga adalah jiwa agung para leluhur yang kemudian diberi kersa oleh Tuhan untuk terlibat dalam pengaturan panggung kehidupan yang belum tergelar.

 

Ada satu misteri lain yang bisa kita kaji. Kami mendapatkan sebuah catatan menarik dari Syansanata Ra, terkait lema al Yavan. Menurutnya, nama ini sama belaka dengan Yava Dvīpa. Bisa kita terjemahkan menjadi Nusantara dengan Tujuh Pulau Utama.

 

Sebuah kitab yang dinisbatkan kepada Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra dengan judul Al-Jafr A’zham memuat pernyataan-pernyataan Beliau tentang akhir zaman yang ia peroleh dari Baginda Rasulullah Saw. Di dalamnya tersebutkan sebuah negeri yang akan membawa kejayaan Islam pada akhir zaman, bernama Negeri Al-Yaban, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

 

1. Mayoritas penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Penduduk negeri itu berasal dari golongan ‘Ajam yakni orang-orang non Arab.

3. Penduduk negeri itu baik-baik dan banyak yang dapat membaca Al-Quran.

4. Negeri itu memiliki tanah yang sangat luas dan banyak orang yang hijrah (berpindah) ke negeri itu.

5. Negeri itu memiliki pulau berjumlah lebih dari ratusan dan ditinggali keturunan Rasulullah Saw (para habib dan sayyid).

6. Negeri itu banyak dinaungi gunung besar dan sering terjadi gempa.

7. Negeri itu menjalin hubungan luar negeri dengan negeri manca yang ada di sekitarnya, yakni Cina yang berada di Timur Jauh, serta negeri yang berada di belakang Laut Kuning yang namanya sesuai dengan nama seorang raja bernama Koreo (maksudnya Negeri Korea).

8. Pada akhir zaman, negeri ini akan mencapai puncak kejayaannya. Semua pulau-pulau yang dimilikinya akan dibuka dan terbuka pada masa Imam Mahdi dan Nabi Isa as.

 

Negeri yang memiliki delapan ciri-ciri di atas disebut dalam Kitab Al-Jafr A’zham dengan nama Al-Yaban, yang diterjemahkan dengan keliru ke dalam Bahasa Indonesia sebagai Negeri Jepang. Padahal jika kita mencermati ke delapan ciri yang disebutkan di atas, maka jelas-jelas merujuk kepada penanda yang dimiliki oleh INDONESIA.

Kata Al-Yaban merupakan pelafalan dari kata Al-Yavan dalam lisan orang Arab, sebagaimana nama Swarnadvipa (nama Pulau Sumatera dalam Bahasa Sansekerta) diucapkan dalam lisan orang arab sebagai Suwarandib. Bukan sebuah kebetulan pula jika dalam peta kuno Pulau Jawa versi Belanda, terdapat daerah yang bernama Djapan yang mirip dengan Jepang.

 

Dr. Menachem Ali dalam bukunya yang berjudul Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts, menyebutkan bahwa kata Yavan merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “Yava-Dvipam” yang kemudian  mengalami proses transliterasi menjadi “Jawa Dwipa” yang berarti Pulau Jawa. Sampai di sini, kita menjadi mafhum bahwa ternyata Al-Yavan adalah Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya pada akhir zaman, merujuk pada Nusantara—yang Pulau Jawa menjadi bagian darinya.

 

Dalam buku berjudul Java: Past & Present A Description of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products, yang ditulis oleh Donald Maclaine Campbell pada 1915, disebutkan sbb:

 

“Javana or Yavana, or abridged Java, was also the name given only to Sumatra, but also to portions of Borneo and of the Malay Peninsula (probably Pahang) besides the whole of Indo-China.”

 “Javana atau Yavana, atau sering kali hanya disebut sebagai Java, adalah nama yang diberikan tidak hanya untuk Pulau Sumatera, tetapi juga untuk sebagian Pulau Borneo (Kalimantan) dan Semenanjung Malaysia (mungkin Pahang), juga mencakup seluruh kepulauan Indo-China.”

 

Jadi jelas adanya bahwa yang dimaksud dengan Yavan, Yavana, al-Yavan, sesungguhnya merujuk pada wilayah Nusantara yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China.

 

Wilayah Nusantara inilah yang pada masa penyebaran Islam oleh Syeikh Jumadil Kubro (kakek Sunan Ampel), Syeikh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri), dan Sunan Ampel (ayahanda Sunan Bonang) sebagai generasi pertama Wali Songo disebut sebagai “Jawi” yang merujuk pada wilayah Nusantara yang mencakup Malaka (Malaysia), Pasai (Aceh) dan Ampeldento (Surabaya). Baru kemudian pada masa Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri lah, Jawi meluas hingga Nusantara yang mencakup Aceh, Minangkabau, Palembang, Banjar (Kalimantan), Lombok (NTB), Timor (NTT), Makassar (Sulawesi) hingga Ambon (Maluku). Jangkauan teritori ini merupakan hasil penyebaran Islam oleh Sunan Giri dan murid-muridnya, yang kemudian disebut Jawi.

 

Ramalan tentang Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya pada akhir zaman, tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jafr A’zham, namun ternyata juga disebutkan dalam kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur (Raden Nur Rahmad, putra dari Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad, Irak, lahir pada 1520 Masehi dan wafat pada 1585 Masehi).

 

Menurut penuturan Kiyai Haji Abdul Ghafur, pengasuh pondok pesantren Sunan Drajad yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur itu, disebutkan bahwa sekitar 900-an Masehi, para Wali Abdal Allah yang berjumlah 40 orang, berkumpul di Baghdad (Irak) melakukan rapat pleno untuk mengkaji salah satu Hadits Rasulullah Saw yang menubuwatkan kejayaan Islam akan bangkit dari Timur—yang ternyata dalam Hadits tersebut juga tidak dijelaskan oleh Rasulullah Saw.

 

Setelah bermusyawarah, akhirnya para Wali Abdal ini memutuskan untuk mencari Negeri yang berada di Timur itu. Tapi para Wali Abdal ini masih bingung tentang lokasi negeri yang dimaksud. Namun salah satu Wali Abdal berucap, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa ciri penduduk negeri itu ada dua, yakni pertama memiliki ciri-ciri fisik yang berada “di tengah-tengah," dan yang kedua, penduduknya memiliki tingkah laku yang baik.

 

Mereka pun kemudian melakukan kajian secara geografis, sosiologis dan antropologis. Dicarilah suatu daerah yang secara geografi, strategis dan subur; secara sosiologis memiliki peradaban, akhlak dan kebudayaan yang baik; dan serta secara antropologis berperawakan sedang, tidak pendek dan juga tidak terlalu tinggi, kulitnya tidak hitam dan juga tidak terlalu putih, rambutnya tidak keriting dan juga tidak terlalu kaku, matanya tidak sipit dan juga tidak terlalu lebar.

 

Berdasar parameter tersebut, maka dipilihlah Nusantara sebagai negeri yang berada di Timur yang perlu digarap para Wali Abdal guna menyongsong kebangkitan Islam berikutnya.

Apa yang dituturkan oleh KH. Haji Abdul Ghafur, yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur ini, memiliki kemiripan konteks dengan apa yang pernah disampaikan KH As’ad Syamsul Arifin dalam salah satu ceramahnya pada 1980-an sebagai berikut:

 

“Dalam rapat para ulama di Kawatan, Surabaya, sekitar 1925 Masehi, ada seorang yang menyampaikan pendapatnya. Ulama tersebut mengatakan bahwa ia menemukan satu teks sejarah yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Ampel yang menyatakan demikian:

 

‘”Waktu saya (Sunan Ampel) mengaji pada paman saya di Madinah, saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah Saw seraya berkata: Islam ahlussunnah wal jamaah ini bawalah hijrah ke Indonesia karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam ahlussunnah wal jamaah. Bawalah ia ke INDONESIA.’”

 

Menariknya adalah bahwa ternyata ramalan tentang Negeri di Timur ini, ternyata tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jafr A’zham dan kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, melainkan juga disebutkan dalam Kitab Veda Bhavisya Purana, bagian Pratisara Parwa yang berisikan pelbagai ramalan tentang masa depan hingga akhir zaman. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa orang-orang Yavana akan menguasai peradaban dunia pada akhir Zaman Kaliyuga. Nah kata kuncinya di sini adalah ”Yavana.”

Dalam Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda Bab 40, disebutkan:

 

“yatnavanto Yava-dvipam sapta rajyopa-sobhitam”

Terjemahan:

“(Sugriva berkata): Selanjutnya kalian akan memasuki wilayah Yava-Dvipam (Pulau Jawa) yang termahsyur dan terdiri atas tujuh kerajaan.”

 

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Yava Dvipam dapat diartikan untuk menyatakan seluruh wilayah Nusantara yang terdiri atas tujuh pulau utama, yakni: Yava Dvipa (Pulau Jawa), Kara Dvipa, Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera), Malaya Dvipa (Semenanjung Melayu), V[B]aruna Dvipa (Pulau Kalimantan), Varah Dvipa dan Sula Dvipa (Pulau Sulawesi).

Memaknai Yavana sebagai Yava Dvipam yang mencakup wilayah Nusantara dan terdiri atas tujuh pulau ini, juga dibenarkan oleh Kitab Jagad Pramudhita (Kitab Jagad Raya):

 

“Kisah pun berlanjut. Akhirnya Manusia diturunkan ke Bumi dan berkembang menjadi pelbagai bangsa dengan ras berbeda. Sangat lama mereka hidup di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), lengkap dengan beragam keunikan dan lika-liku kehidupannya.

 

Periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) pun harus berakhir, lalu digantikan dengan periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra). Setelah semuanya cukup waktu, maka periode zaman kedua itu pun harus berakhir dan digantikan dengan periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Nah, pada masa awal periode zaman ketiga (Dirganta-Ra) ini, setelah satu miliar tahun berlalu, maka untuk pertama kalinya satu di antara kelima sosok dari bangsa Safaru turun ke Bumi. Ia bernama Amarun dan langsung membangun sebuah negeri di atas awan dengan nama Yavana.

 

Negeri ini  sangat tersembunyi (tak kasat mata) dan posisinya berada di antara Yava Dvipa (Pulau Jawa), Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera), Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan),  dan Sula Dvipa (Pulau Sulawesi) sekarang. Lalu selang beberapa waktu kemudian, ke empat bangsa Safaru lainnya yang bernama Asorin, Hadirar, Kasibar, dan Giwasur, ikut menyusul dan tinggal di negeri tersembunyi yang disebut Yavana itu.”

 

KH. Adnan Anwar mengatakan bahwa konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah disiapkan para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dibuktikan dengan salah satu dokumen bertitimangsa 1783 hasil batsul masa’il di Masjid Baiturahman Aceh yang isinya jika Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah Al Jumhuriyah Al Indonesia.

 

“Saya sudah melacak pelbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan di Berlin menemui Profesor Bastian, bahwa nama Indonesia baru ditemukan oleh Barat pada 1892. Padahal nama Indonesia sudah ada pada sejak 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh,” ungkap KH. Adnan.

 

Beliau juga menambahkan bahwa NKRI sudah sangat Islami lantaran banyak ulama terlibat menyusun bangunan dan konsepsinya. Habib Idrus Salim Al Jufri, pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Hadratussyeikh Hasyim Asyari pernah mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Saw dan berpesan, “Kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih.”

 

Maka pada Muktamar NU 1937, atas pesan Habib Idrus Salim Aljufri, KH. Hasyim Asyari mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Sukarno adalah pemimpinnya. Mbah Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bahkan, pencipta lagu Hymne Syukur adalah seorang Habib (Muhammad Husein Mutahar) yang mulai diperdengarkan pada Januari 1945.

 

Guru Tua (Habib Idrus) memang memiliki kecintaan mendalam terhadap bangsa Indonesia, seperti juga Habib Ali al Habsyi Kwitang, & para habaib lain yang namanya tak mungkin kami cantumkan satu persatu dalam tulisan sederhana ini. Demikian dari kami. Semoga kita senantiasa bahagia lan mahardika. []

 

 

Kembangan, 11 September 2019

 

Author

3 Responses Write a Response

Mark Otto
24 Hours
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo.
Mark Otto
24 Hours
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo.
Mark Otto
24 Hours
Quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.
Mark Otto
24 Hours
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo.

Leave Your Response